Home > All About AC MILAN > Era Para Bintang yang berakhir manis, anggota the dream team Milan era Milenium 2002-2008

Era Para Bintang yang berakhir manis, anggota the dream team Milan era Milenium 2002-2008


ImageImageImageImage

Nothing eternal in this World… but your name will be lasting if you have big contribution and prestation that make everyone always remember you and burn you into the heart of every people…

Yeah… Obviously! Itu lah jawaban yang tepat untuk merespon kalimat luar biasa di atas. Persis dengan yang dilakukan para legenda baru Milan di era Milenium.

Akhir musim 2008-2009, seperti menyadarkan lagi banyak pihak bahwa tidak ada yang abadi di dunia. Bahwa sebuah era emas sudah mulai mendekati titik akhir dan perlu diteruskan oleh para juniornya yang tak kalah berprestasi.

Sinyal itu sangat kentara di akhir musim 2008-2009. Pecinta sepak bola dunia khususnya fans Milan diseluruh Dunia dibuat terharu saat sang legend Il Capitano Milan yang telah bermain hanya untuk Milan selama 24 tahun, mengakhiri karier nya di usia 41 tahun. Tak bisa dipungkiri bahwa Maldini lah pemain terbesar bagi Milan. 7 scudetto, 5 gelar Liga Champions dan gelar-gelar prestisius lainnya adalah bukti sahih kehebatan Maldini dalam membela panji kebesaran Milan di setiap era nya baik suka maupun duka. Kehebatannya di sandingkan dengan sang legenda besar lainnya yang merupakan kapten legendaris Milan yakni Franco Baresi, yang memimpin Milan mengangkat 3 Piala Champions. Bahkan bisa dibilang Maldini lebih hebat karena dari segi jumlah gelar yang diberikan lebih banyak dari Baresi, dan kemampuanya sebagai defender serba bisa terutama sebagai bek kiri sulit dicari tandingannya. Di Musim itu juga, Pelatih yang memimpin Milan meraih kejayaan di era Milenium yakni Carlo Ancelotti memutuskan untuk berhenti sebagai pelatih dan mencari tantangan baru serta sang Trequartista handal Ricardo Kaka berganti kostum pindah ke Real Madrid. Hal ini seperti menjadi “pelengkap” setelah kepergian bomber handal Andriy Shevchenko di tahun 2006 yang pindah ke Chelsea, dan Playmaker Genius Rui Costa serta Rivaldo yang memutuskan “pulang kampung” di medio 2004-2005.

Seakan menjadi titik awal, selanjutnya setelah kepergian Maldini satu persatu para pemain kunci Milan di era emas itu mulai meninggalkan klub atau pensiun. Karena usia yang sudah uzur ataupun karena memang sudah tidak berkontribusi maksimal lagi. Seperti halnya Khaka Kaladze, Marek Jankulovski, Cafu, Serginho, dll. Andrea Pirlo, sang deep playmaker terbaik di dunia akhirnya juga memutuskan pindah ke Juve karena tidak cocok dengan skema permainan di era kepelatihan Max Allegri. Ini merupakan kehilangan yang cukup berat karena Pirlo nyaris tak tergantikan di era milenium. 2 Scudetto, 2 gelar Liga Champions, 1 coppa Italy, 2 SuperCup Italy, 2 Europe SuperCup, 1 Fifa World Cup Club adalah bukti vitalnya peran Pirlo.

Puncaknya adalah di akhir musim 2011-2012. Saat nyaris semua pemain angkatan generasi emas era milenium meninggalkan klub. Sang bek tangguh Alessandro Nesta, si “badak” Gattuso, gelandang serang “macan kumbang” Clarence Seedorf, Mesin gol Filippo Inzaghi. Mereka semua adalah generasi emas yang berkontribusi meraih gelar-gelar prestisius sama halnya dengan yang diberikan Pirlo untuk Milan. Nesta menjadi palang pintu yang sangat tangguh apalagi kala berduet dengan Maldini di jantung pertahanan Milan, Gattuso adalah pelengkap kepingan puzzle yang sempurna guna menkompensasi trio gelandang Milan yang lebih berkonsentrasi untuk menyerang yakni Pirlo, Seedorf, dan Rui Costa. Dia adalah penjegak pertama serangan lawan sekaligus perusak sistem permainan lawan. Seedorf adalah gelandang serang utama untuk menunjang peran Pirlo sebagai otak serangan utama. Dia yang melakukan manuver berbahaya bersamaan dengan Rui Costa atau Kaka yang menjadi Playmaker dan Trequartista handal di belakang 2 striker. Inzaghi adalah Striker oportunis yang garang dan selalu mencetak gol-gol penting untuk Milan seperti halnya sang kolega Andriy Shevchenko, yang juga memutuskan untuk pensiun selepas Euro 2012.

Di Era 2002-2007, saat mereka berada dalam puncak karier keemasan, di bawah tangan dingin pelatih Ancelotti Milan menjadi tim paling di segani di Dunia. Prestasi tiap musimnya sangat baik. Milan di era itu mampu 3 kali menembus Final Liga Champions dan memenangi 2 diantaranya. Bahkan selalu mengisi tempat di semi final setiap musimnya. Milan pun mampu mengukuhkan diri sebagai yang terbaik di dunia di tahun 2007. Di era 2002-2008 itu Milan mampu menggondol 2 gelar Liga Champions, 2 Piala Super Eropa, 1 Fifa World Cup Club, plus gelar-gelar lokal seperti 1 Scudetto, 1 Coppa Italy, 1 SuperCoppa Italy. Prestasi tersebut menjadi prestasi terbaik di dunia di era Milenium, sebelum akhirnya dipatahkan oleh generasi emas Barcelona di rentang waktu 2005-2012.

Categories: All About AC MILAN
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: